Spread the love

Sudah dibaca 2248 kali

Siswa Berbaris
Siswa sedang berbaris sebelum masuk kelas (Foto: Billy Antoro)

Situasi di dalam Kelas Jamur begitu dramatis. Beberapa anak laki-laki berteriak-teriak minta keluar ruangan belajar Kelompok Bermain (Playgroup) itu. Berulangkali pintu yang terkunci dari dalam digedor-gedor. Guru dan orangtua anak coba menenangkan, namun usaha itu seperti sia-sia. Suara gaduh semakin keras terdengar. Siswa-siswi lain mulai terpengaruh. Termasuk Kirana, anak saya.

Saya mengintip dari balik jendela kaca. Mencoba memahami situasi. Kirana, bersama beberapa siswa lain, hanya menonton perilaku teman sebayanya sembari melakukan aktivitas dengan bu guru. Saya meninggalkan jendela kaca. Keluar, bergabung dengan dua lelaki sepuh yang tengah berbincang di pintu gerbang sekolah.

Lelaki satu biasa dipanggil Engkong. Ia penjaga sekolah. Matanya selalu tampak teduh tertutup kacamata berkaca coklat. Satu lelaki lagi saya tidak tahu namanya, sebut saja Mr. X. Ia mengantar cucunya yang juga masuk Kelas Jamur bersama Kirana.

Saya bertanya pada Engkong apa yang membuat anak-anak di Kelas Jamur menangis. Saya rasa yang menangis adalah anak-anak berusia di bawah tiga tahun yang dipaksa orangtuanya masuk kelas Playgroup. Mereka belum siap, kata saya.

Jawaban Engkong cukup mengejutkan. Katanya, tak semua anak di bawah 3 tahun menangis. Anak di atas 3 tahun pun menangis. Itu tergantung keberanian anak. Ia menjawab berdasarkan hasil pengamatan selama bekerja di situ.

Mr. X membenarkan jawaban Engkong. Cucunya yang laki-laki, satu kelas dengan Kirana, usianya 3,5 tahun namun masih sering menangis di dalam kelas. Dalam hati saya bangga pada Kirana. Kini usianya 3 tahun 8 bulan namun ia tak pernah menangis sejak kali pertama masuk kelas pada 29 Juli 2015 lalu.

“Tiap anak butuh adaptasi,” kata saya. “Dan, kemampuan anak dalam beradaptasi berbeda-beda.” Pada dasarnya, ketika seorang anak bergabung dengan anak lain dalam satu ruangan, mereka mulai melakukan interaksi dan sosialisasi. Hanya saja kemampuan dan keberanian tiap anak berbeda-beda.

Saya lalu bercerita tentang pengalaman saya mengajar di Pendidikan Anak Usia Dini sekitar 5 tahun lalu—saya mengajar di PAUD Nusa Indah Duren Sawit Jakarta Timur sejak Februari 2008 hingga April 2010. Di sana, rata-rata, anak yang baru masuk kelas ditemani orangtuanya. Mereka enggan melepas pegangan. Melakukan apapun ingin ditemani dan dibantu orangtua.

Namun, beberapa waktu kemudian, mereka mulai berani melakukan segala sesuatu sendiri. Setelah itu, orangtua disuruh pergi ketika pelajaran dimulai. Mereka memercayakan guru sebagai pembimbing utama.

Mereka butuh waktu untuk bersosialisasi. Itu saja. Masalahnya, banyak orangtua khawatir anaknya lambat belajar. Anak tidak dibiarkan mengerjakan kegiatan menggambar, menulis, dan mewarnai sendirian. Ketika anak ngambek, mereka marah dan mencubit anaknya. Saya sampai hafal siapa saja siswa-siswi yang langganan menangis saat kelas tengah berlangsung.

Mr. X menambahkan bahwa keberanian anak dipengaruhi cara pengasuhan orangtua. Orangtua yang tidak bisa bersikap tegas pada anaknya, kemungkinan besar anak itu tidak mandiri dan disiplin. “Menangis dijadikan senjata oleh anak untuk memperoleh kemudahan dari orangtuanya,” ujarnya.

Lalu pembicaraan melebar pada pola asuh anak: siapa yang sebenarnya mengasuh anak di rumah. Mr. X bercerita, anak dan menantunya bekerja. Ia dan istrinya mengasuh dua cucu di rumah. Ia sengaja meninggalkan profesi guru di sebuah SMK demi menemani istrinya mengasuh cucu yang ditinggalkan anak dan menantunya.

Dulu, saat ia merintis rumah tangga, istrinya tidak bekerja. Fokus mengasuh anak. “Penghasilan dicukup-cukupkan dengan kebutuhan,” ujarnya mengungkapkan alasan mengambil keputusan itu.

Ia menilai pengasuhan anak yang terbaik adalah bila dilakukan oleh ibunya—ketika ayahnya pergi bekerja di luar rumah. Bukan oleh kakek-nenek, saudara, tetangga, bahkan pembantu. Namun kini marak pengasuhan anak dilakukan bukan oleh orangtua karena suami-istri sama-sama bekerja.

Hati kecil saya berkata bahwa Mr. X adalah korban anaknya: dia disuruh mengasuh cucu di rumah. Namun ia mengatakan menerima kondisi demikian meskipun kadang tak bisa menahan diri jika rasa bosan dan jengkel menyerangnya: mengomeli, mencubit, dll. “Saya saja yang kakeknya kadang tak bisa menghindarinya, bagaimana jika yang mengasuh orang lain?” katanya. Kami lalu berbagi pandangan tentang maraknya kasus penelantaran, pelecehan, dan penganiayaan terhadap anak oleh pembantu pengasuh anak atau orang dekat sang anak.

Saya utarakan apa yang tengah berkecamuk di dalam kepala meskipun agak menyinggung perasaan Mr. X. Saya katakan banyak orangtua sekarang yang mengerjai orangtuanya. Mereka menyuruh orangtua untuk mengasuh cucunya sementara mereka pergi mencari uang. “Kalau anak bisa protes,” ujar saya, “mereka akan bertanya sebenarnya kedua orangtua mereka mencari uang untuk anak atau dirinya sendiri?” Apa yang dikejar: materi atau kebahagiaan anak?

Orangtua yang berpikir dengan uang yang dihasilkan dari jerih payah bekerja akan membahagiakan anak sebaiknya meninjau kembali pemikirannya. Memang dengan uang berbagai kebutuhan anak terpenuhi. Tapi ingat, yang dipenuhi hanya keperluan material; susu, makanan, sewa rumah, bayar listrik, dll. Namun, di saat bersamaan, ada nilai yang tergadai yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak: perhatian, pengasuhan, dan pendidikan.

Berapa banyak anak yang melakukan kenakalan, terlantar di luar rumah, atau berani melakukan aksi kriminal ketika mereka dititipkan pada pembantu sementara kedua orangtuanya bekerja? “Di dekat rumah saya, ada anak yang tiap hari main ke mana-mana. Ia dititipkan pada tetangganya,” tambah Mr. X. Padahal ibu anak itu seorang dokter.

Akhirnya, memang, suami-istri yang bekerja menghadapi dilema pengasuhan. Mereka harus memutuskan pilihan siapa yang mau mengasuh anak-anaknya di rumah: orangtua, saudara, tetangga, atau pembantu.

Memang, pada sebagian rumah tangga, suami-istri membagi waktu seefektif mungkin agar salah satu atau keduanya banyak berinteraksi dengan anak. Kualitas pertemuan jadi tumpuan karena kuantitas tak dapat diharapkan.

Orangtua seharusnya mempertimbangkan banyak hal dalam memutuskan pilihan: siapa yang akan mengasuh anak. Harus ada yang dikorbankan.

Jika suami-istri memilih pengasuh anak adalah sang istri (biasanya istri yang mengalah), maka penghasilan suami menjadi tumpuan utama. Yang repot jika penghasilan suami per bulan pas-pasan. Namun, situasi ini menjamin kebahagiaan anak karena tiap waktu tiap saat berinteraksi dengan ibunya.

Yang perlu diperhatikan adalah kondisi psikologis sang istri, terutama bagi yang sebelumnya adalah pekerja keras. Mereka rela mengorbankan kebebasannya untuk mengembangkan karier, berinteraksi dengan teman-temannya, dan mengembangkan diri sesuai bakat. Dampaknya, mereka akan mudah merasa jenuh dan kesepian.

Sebaiknya, demi menghargai profesi dan psikologis istri, beri kesempatan padanya untuk menjalani bidang kerja yang tak mengganggu tanggung jawabnya dalam mengasuk anak, misalnya membuka toko daring (online). Dengan kesibukan kerja yang bisa diatur durasi dan waktunya, pikiran dan tenaga istri tidak tercurah semuanya ke satu bidang kerja (mengasuh anak).

Sementara suami-istri yang memilih orangtua, saudara, atau pembantu sebagai pengasuh anaknya, sebaiknya berniat bahwa sesedikit apapun waktu yang dimiliki akan begitu besar nilainya jika digunakan bersama anak. Jangan serahkan proses pengasuhan seluruhnya kepada mereka.

Apapun pilihannya, patut dihargai. Ada kelebihan dan kekurangan yang terkandung dalam pilihan itu.

Saya kembali mengintip jendela kaca Kelas Jamur. Kirana sedang melahap donat kuning bersama teman-temannya. Tapi, di dekat pintu keluar, beberapa anak masih riuh ingin keluar. Pintu masih digedor-gedor dari dalam.*

Artikel terkait:

Hari Pertama Kirana ke Sekolah

Pak Guru Itu Aku