Spread the love

Sudah dibaca 848 kali

“Partai berlambang bulan sabit melaporkan KPK ke Bareskrim Mabes Polri dengan delik aduan perbuatan tidak menyenangkan.” Memet bangkit dari duduknya. Ada perasaan lega yang menggelayut di hatinya. “Menurutmu bagaimana, Cep? Kupikir, sebagai politisi, kau mengerti banyak soal ini.”

“Soal itu masuk ranah hukum. Tapi, bagaimanapun, akhirnya merembet ke soal politik. Aku yakin, banyak sekali orang parpol yang bersorak melihat pertikaian ini. Juga koruptor macam kita.”

“Ya, ya, ya, konsentrasi KPK akhirnya tersita melayani perlawanan partai itu. Kasus-kasus besar yang ditanganinya macam BLBI dan Century sedikit-banyak terlantar. Apalagi yang diadukan itu sepuluh penyidik KPK. Itu, kan, maksudmu?”

Cepi tersenyum. Ia mengakui, meskipun Memet seorang pengusaha, namun pengetahuan politik dan hukumnya cukup mumpuni. “Setidaknya, ini memberi cukup napas bagi pengemplang BLBI dan Century untuk atur strategi dan amunisi.”

“Tapi aku tertarik soal delik aduan perbuatan tidak menyenangkan itu.”

“Kenapa? Ada yang aneh? Partai itu, kan, merasa tidak senang dengan cara penyidik KPK menyita mobil yang diduga milik LHI. Masing-masing punya cerita sendiri. Yang satu bilang tidak sesuai prosedur, yang satu lagi bilang sesuai prosedur.”

“Tidak, tidak. Maksudku, aduannya pakai pasal karet. Pasal 335 KUHP. Pasal ini sudah makan banyak korban. Sama seperti pasal tentang penghinaan presiden yang pernah dihapus namun kini coba dibangkitkan lagi.” Mendekam di penjara sebagai tersangka mendorong Memet untuk banyak belajar ilmu hukum.

“Aku tahu itu,” sela Cepi. “Masyarakat yang tak mengerti hukum jadi korbannya. Pasal ini juga santapan lezat pengacara untuk dijadikan mesin duit.”

“Mestinya pasal itu dipakai untuk para pejabat, bukan untuk rakyat.”

“Maksudmu?”

“Misalnya anggota DPR. Kalau ada yang jadi terpidana korupsi, mestinya jaksa penuntut umum mendakwanya juga dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Minimal, ia tidak menyenangkan bagi konstituen yang memilihnya.”

Cepi nyengir. “Itu mungkin saja terjadi. Tapi seumur-umur, tidak ada tuh anggota DPR yang didakwa dengan pasal berlapis itu.”

“Pak Presiden yang nanti akan menaikkan harga BBM juga bisa dikenai pasal ini, kan? Kenaikan harga BBM tidak membuat senang hati rakyat.”

Kali ini Cepi tertawa. “Siapa yang berani memperkarakan Presiden? Kamu itu jangan mengada-ada, Met. Sudah, kamu, kan, pengusaha. Pikirkan saja yang buat kamu bisa bebas dari sini secepatnya.”

“Lho, di sini, kan, kita bebas bicara!”

“Tapi pakai etika, dong!” Cepi nyolot.

“Kamu bilang aku tidak beretika?”

“Ya! Kamu itu tidak sopan, kalau ngomong asal goblek, maunya menang sendiri, de el el. Puas, kamu?!”

“Kau sudah memukul genderang perang denganku, Cep!”

“Lalu kamu mau apa?!” Cepi mendekati Memet lalu pasang sikap menantang.

“Aku akan mengadukan kamu dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan! Kau mengatakan sesuatu yang buat aku tersinggung!”

“Silakan, adukan saja!” Memet jual, Cepi beli.

Saat itulah Asan, pengacara Memet datang.

“San, aku ingin mengadukan Cepi ke polisi!” Memet teriak seperti sedang berada di hutan. Ia menuding Cepi. “Adukan dia dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!”

Cepi yang tadi tampak gagah, kini menciut nyalinya. “Aku… aku juga akan menuntutmu dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!”

Memet heran. “Lho, kok bisa?”

“Tentu saja bisa! Aku… aku tidak senang kau mengadukanku ke polisi. Jadi aku akan menuntutmu dengan pasal itu.”

“Lho, San, kok bisa begini? Coba kamu jelaskan sejelas-jelasnya ke dia! Kan aku lebih dulu yang akan mengadukan dia ke polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Kok dia ikut-ikut mengadukanku dengan pasal itu?!”

Asan bingung. Ia baru menghadapi kasus aneh seperti ini.

“Kalau kau tidak mau memenuhi permintaanku, aku akan menuntutmu dengan pasal itu, San! Menolak membantuku berarti membuat hatiku tidak senang!” Nada suara Memet terasa menakut-nakuti.

Asan gelagapan. “Lho, tunggu dulu, Met. Kok jadi begini sih?”

“Mau tunggu apa lagi?”

“Met, kau saja masih bermasalah dengan kasus korupsi, sekarang kau pengin cari masalah lagi dengan kasus lain. Kalau begini, lebih baik aku mengundurkan diri sebagai pengacaramu!”

Mata Memet membelalak. “Eh, jangan sembarangan ngomong kamu! Aku tidak mau kamu mundur! Jangan lagi kau katakan hal itu! Kalau tidak, kuadukan kau telah berbuat tidak menyenangkan kepadaku!”

Memet terus merepet. Asan tak mau kalah. Keduanya baku mulut. Melihat ini Cepi garuk-garuk kepala. “Kalian berdua, diam!”

Sebentar Memet dan Asan diam, lalu menatap Cepi dengan raut kesal. Keduanya lalu kompak bersuara, “Kuadukan kau dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!”

“….”

Jakarta, 14 Mei 2013.