Spread the love

Sudah dibaca 1001 kali

SELASA pagi pukul 9.30 yang cerah pada 29 Januari 2008, Pos RW 01 Kelurahan Duren Sawit, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, sudah dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak. Mereka duduk mengisi ruangan dan teras pos. Tukang makanan dan mainan menggelar barang dagangan di pinggir pos. Hari itu, seperti biasa, kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini digelar. Ibu-ibu PKK RW 01 penyelenggaranya.

Seorang ibu berpakaian batik berdiri di depan whiteboard yang tergantung di teralis pos. Ia menerangkan bagaimana menempel gambar di atas kertas. Anak-anak berumur 3 hingga 5 tahun di hadapannya mengerjakan tugasnya. Mereka duduk di dekat meja belajar kecil sambil memegang kertas bergambar bangunan datar. Beberapa di antara mereka di dampingi ibunya.

Tidak semua anak mengerjakan tugas dengan baik. Ada yang tidak mengerti dan enggan mengerjakan. Kalau sudah begitu, mereka yang didampingi ibu akan kena omelan, cubitan, atau jeweran. Sang Ibu dengan raut marah akan memaksa mereka menggunting dan menempel kertas sesuai dengan gambar. Melihat itu ibu-ibu PKK yang mengawasi jalannya kegiatan, yang duduk di belakang, akan berteriak, “Sudah Bu, jangan diomeli! Biar anaknya sendiri yang mengerjakan!” Namun teriakan mereka tak digubris ibu-ibu itu.

Di barisan belakang, seorang ibu duduk di samping anaknya dengan raut menyeramkan. Anaknya duduk menghadap meja dengan muka ditekuk. Tangan ibu itu memegang gunting kecil, memotong kertas, dan menyuruh anaknya memerhatikan. Anak itu acuh sehingga membuat sang Ibu marah. Tiba-tiba gunting terlepas dan jatuh ke lantai. Ibu mengambil gunting sambil menggerutu. Tak sengaja ujung gunting mengenai wajah anaknya yang lebih kecil yang duduk di dekatnya. Anak itu menangis.

Sekitar pukul 9.45 bu guru yang berdiri di depan anak-anak memberi isyarat kepadaku yang berdiri di belakang. Ia memintaku ke depan. Seorang ibu yang tahu aku tak mungkin lewat lantaran jalan tertutup ibu-ibu duduk, meminta ibu-ibu memberi jalan padaku. Aku berjalan ke depan sambil menyungging senyum. Di depan aku makin melebarkan senyum.

“Ayo semua berdiri!” pintaku pada anak-anak dengan suara naik-turun. “Yang ibu-ibu harap di sebelah sini!” Aku menunjuk sisi kiri. Ibu-ibu menuruti permintaanku. Aku memang mau memisahkan posisi ibu-ibu dan anak-anak mereka agar tidak bercampur. Biar benar-benar kelihatan siapa yang sebenarnya belajar.

Kemudian aku meminta anak-anak menyingkirkan meja belajar. Ibu-ibu membantu. Setelah itu anak-anak kuminta berdiri merapat mendekatiku. Beberapa anak enggan dan lebih memilih berada di sisi ibunya. Aku mendiamkan dan melihat sebagian mereka dipaksa ibunya melepaskan pegangannya.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” sapaku pada semua. Anak-anak menyambut salamku, tapi tidak semua. Makanya aku mengulangnya sekali lagi. “Hari ini kita tidak akan belajar menulis, tapi belajar bernyanyi.”

Aku berusaha menikmatinya. Kata-kata selalu kuucapkan dengan suara keras karena suaraku kadang tertelan oleh keriuhan ibu-ibu dan anak-anak yang berada di dalam pos—mereka ikut program PAUD untuk anak usia 2 tahun. Aku mengenalkan diri lalu meminta anak-anak itu melakukan hal serupa. “Perkenalannya sambil bergoyang ya!” Aku mencontohkan bagaimana mengenalkan diri sambil bergoyang. Aku melihat ibu-ibu memandangiku dengan paras beragam.

Anak-anak itu menyambutku. Sebagian ada yang memberanikan diri maju dan meneriakkan namanya dengan keras. Tapi ada juga yang ke depan namun tak mengeluarkan suara sama sekali. Ia gadis kecil yang hanya menggeleng ketika aku memintanya mengucapkan namanya di depan teman-temannya. Tak apalah, yang penting dia sudah berani ke depan.

Aku mengajak mereka bernyanyi. Sebuah lagu yang masih kuingat saat aku kursus bahasa Inggris waktu duduk di kelas 1 SMP 15 tahun lalu. Perlahan aku mengejakannya kepada anak-anak. “Are you sleeping/Are you sleeping/Brother John/Brother John.” Saat mengucapkan kata “sleeping” aku memeragakan posisi kedua telapak tangan bertemu dan meletakkannya di samping kepala kiri dan kanan.

Sebagian anak terlihat antusias, sebagian bengong dan bingung, sebagian lagi masih duduk bersama ibunya. Kemudian aku mengeluarkan gulungan kertas bergambar binatang. Aku menempelkan kertas karton itu dengan isolasi di whiteboard. Saat menempel anak-anak mendekat. Ada yang ingin membantu, ada pula yang menunjuk-nunjuk seraya menyebut nama binatang yang ditunjuk.

Anak-anak mengikuti kata-kataku dengan raut aneh. “Ini apa?” tanyaku sembari menunjuk binatang berkaki empat. “Macan!” jawab mereka. “Bahasa Inggrisnya Tiger. Apa?” Aku meminta mereka mengulang, tapi banyak yang bingung. Aku mengulang lagi dan sebagian mereka mengikuti. Begitu seterusnya hingga aku menujuk anjing dan kuda. Suara binatang-binatang itu kutirukan juga. Aku memerhatikan sebagian anak, terutama yang laki-laki, senang berteriak menyebutkan nama-nama binatang. Suaranya lebih keras dari suaraku.

Aku berusaha menjaga perhatian mereka agar selalu riang dan tertuju padaku. Makanya aku mengombinasinya dengan bernyanyi. Kuingat kembali lagu anak-anak dan aku mulai mengajak mereka bernyanyi. “Ayo kita nyanyi lagu Naik Kereta Api!” Lalu aku mulai bernyanyi sambil mengajak gadis kecil yang sejak tadi berdiri di sampingku, Lidya namanya, ikut bernyanyi—dia tetap tak bersuara. “Naik-naik kereta api…”

Saat aku menyanyi, ibu-ibu tertawa. Aku baru sadar, aku menyanyikannya seperti menyanyi lagu Naik-naik ke Puncak Gunung. “Maaf, Bu, sudah lama saya tidak menyanyikan lagu ini,” dalihku. Aku tertawa dalam hati.

Selama mengajar peluh mengucur deras di wajahku. Sesekali aku menyekanya. Capek sekali, tapi menyenangkan. Aku teringat saat mengajar ngaji anak-anak waktu duduk dibangku SMP dan STM; berisik, teriak-teriak, tertawa, bercampur satu dalam keriangan. Sekarang mereka sudah besar dan ada yang sudah menikah.

Sekitar pukul 10.45 kegiatan belajar selesai. Suasana pos kembali sepi. Tikar dilipat dan sampah kertas bekas guntingan anak-anak disapu. Aku dan beberapa ibu-ibu berkumpul di dalam pos. Makan bika ambon dan segelas air mineral. Tak banyak yang dibicarakan dalam pertemuan itu dan aku lebih banyak diam.

SEMINGGU sebelumnya, Selasa 22 Januari, aku menyambangi pos. Aku melihat langsung kegiatan belajar-mengajar PAUD untuk kali pertama. Ramai sekali pagi itu. Ibu-ibu duduk di samping anaknya. Mereka mengomel, menjewer, dan menggerutui anak-anaknya kala anak mereka tak bisa mengerjakan tugas yang disuruh guru. “Sudah bu, kasihan anaknya, jangan dijewer!” ujar seorang ibu PKK yang mengawasi di bagian belakang. Aku tersenyum geli.

Seorang ibu juga mondar-mandir mengawasi anaknya belajar. Ia menggendong anak kecil sembari menyusuinya. Ibu lain menyusui anaknya, berdiri di belakang papan pembatas setinggi lutut. “Sudah, Bu, biarkan anaknya belajar sendiri,” ujar Bu Pepen, Ketua PKK.

AKU tahu keberadaan program PAUD dari cerita ibuku. Dia juga mengajar di sana. Bergantian dengan ibu-ibu lain. Maklum, pogram ini belum lama berlangsung. Tenaga pengajar seadanya. Kebanyakan suka rela. Kegiatan dilakukan tiap Selasa dan Kamis.

Peserta PAUD sebenarnya anak-anak dari keluarga tidak mampu. Tapi sebagian ada yang berasal dari keluarga mampu. Barangkali cuma mau ikut-ikutan saja. Maklum masih kampung. Ikatan antartetangga masih kuat. Biaya menyekolahkan di Play Group dirasa sangat mahal. Dengan ikut program PAUD mereka tak perlu bayar alias gratis. Seragam untuk anak-anak boleh dicicil—buat yang tidak mampu digratiskan. Dana awal pengadaan seragam dari sumbangan ibu-ibu PKK.

Kata Ibu, juga Bu Pepen, PAUD merupakan program pemerintah yang dibebankan kantor lurah kepada PKK RW. Anehnya, kelurahan tidak memberi dana sepeser pun bagi kegiatan operasional PAUD. Bahkan Dewan Kelurahan tidak mengalokasikan dana untuk kegiatan pendidikan itu. Dana diperoleh dari seorang donatur yang menyumbang Rp 150 ribu per bulan. Uang tersebut digunakan untuk membayar guru dan operasional sehari-hari.

Mendengar itu aku geram sekali. Kenapa pemerintah bisanya menyuruh saja tanpa memberi dana operasional kegiatan? Sama seperti program wajib belajar sembilan tahun di mana masyarakat diwajibkan menyekolahkan anak hingga jenjang SMP, sementara mereka disuruh bayar iuran sekolah yang membubung tinggi. Mestinya pewajiban diiringi pemberian hak yang memadai.

Aku berpikir ini adalah kegiatan sosial yang layak diberi perhatian lebih oleh pemerintah. Namun mengharapkan pemerintah tidaklah cukup. Perhatian warga sekitar juga sangat diperlukan. Bila ini kegiatan positif, kenapa tidak disokong warga?

Aku pengin sekali membantu ibu-ibu PKK menyelenggarakan PAUD. Selain menjadi pengajar—tanpa mengharapkan imbalan—aku ingin membuat proposal donatur. Di sekitar Pos RW banyak sekali tinggal orang kaya berumah mewah. Bila mereka dimintai dana dengan transparansi penggunaan dana yang jelas, kukira mereka mau menyisihkan sebagian hartanya.

Aku melakukan ini karena merasa harus melakukannya. Seperti ada panggilan yang menyeruku untuk mendatangi dan bergumul dengannya. Sudah lama aku ingin mengerjakan hal konkret bagi kemajuan masyarakat sekitarku. Dengan menjadi guru PAUD, aku bisa dekat dengan anak-anak, setidaknya untuk mengobati kerinduanku pada murid-murid pengajianku yang kini sudah beranjak remaja. Aku juga bisa dekat dengan ibu-ibu, sebagaimana aku mengingat dulu, waktu aku kecil, selalu dekat dengan ibu-ibu di dekitar rumahku. Semoga aku bisa konsisten di sela kesibukan kerja.*