Spread the love

Sudah dibaca 977 kali

Usai buka puasa bersama dengan orang-orang baik di kawasan kuliner Jatiwaringin pada Sabtu 14 Agustus, saya meluncur pulang dengan sepeda motor ke Duren Sawit. Shalat tarawih sedang berlangsung di beberapa masjid.

Khusyuk di dalam, “khusyuk” juga di luar. Di luar masjid, anak-anak bersarung berlari-larian, duduk-duduk di depan masjid, nongkrong di warung, dan pesan makanan pada tukang kaki lima yang setia menunggu shalat tarawih selesai. Biasa saja. Tak ada yang aneh. Sebab, maklum, anak-anak. Jumlahnya pun lebih sedikit ketimbang yang shalat di dalam masjid.

Keanehan baru saya lihat saat melihat beberapa orang tua duduk-duduk di depan sebuah masjid besar saat tarawih digelar. Mereka bercampur dalam keriuhan anak-anak di pinggir jalan dan warung. Ah, biar saja, mungkin mereka masih mau jadi anak-anak.

Saat saya tidak bisa menunaikan shalat tarawih di masjid, dan menunaikannya di rumah, biasanya lantaran pulang kerja atau buka puasa bersama di tempat jauh, saya selalu menyempatkan diri melihat suasana masjid ketika digelar tarawih. Dari tahun ke tahun sama.

Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini semarak petasan berkurang. Dulu orang ke masjid dihadang gerombolan anak-anak berpetasan. Tak puas, saat tarawih suara petasan menebar teror hingga dalam masjid. Asapnya juga ke masjid. Kendati berkurang, tetap saja para mafia petasan tak ikhlas membiarkan suasana Ramadhan sepi bunyi petasan.

Main petasan itu memang enak. Dulu seusia SD dan SMP saya kecanduan main petasan. Jenis petasan apa saja saya pernah mainkan. Ceplik, santak, petasan pegang, janwe, petasan banting, petasan kentut, dll. Kembang api saya tak hobi sebab harganya mahal dan tidak menantang kalau dibakar. Saya tak pernah takut terbakar petasan. Bahkan saya pernah jualan petasan dengan tetangga dan mengeruk banyak rupiah.

Sepertinya tak ada yang melarang saya dan teman-teman main petasan. Sebab orang yang lebih dewasa dan orangtua juga ikut main petasan (bukan orangtua saya). Petasan seolah jadi tradisi yang musim di bulan Ramadhan.

Belakangan, ketika beranjak duduk di bangku STM, kesadaran itu muncul. Saya tak lagi mendapatan kepuasan bermain petasan. Petasan di mata saya jadi barang tak berguna. Saya berhenti main petasan dan membuang seplastik sisa petasan santak Ramadhan sebelumnya.

Apalagi bagi sebagian laki-laki petasan digunakan untuk menggoda dan menunjukkan “kekuasaannya” di hadapan perempuan. Ada perempuan menjerit, tawa segar terlontar. Tak terpuji sekali perbuatan itu.

Akhirnya saya tahu hal demikian berjalan lama lantaran tak ada larangan tegas dari orangtua. Masyarakat pun mendiamkan. Barangkali kalau sudah menelan korban, penjual petasan di kampung tiarap.

Saat kuliah, timbul rasa tidak suka saya pada pemain petasan. Dulu saya suka nginap di sekretariat organisasi kampus. Usai sahur biasanya tidur atau mengerjakan hal yang perlu dikerjakan. Saat itulah anak-anak kampung masuk area kampus dan main petasan seenaknya. Seakan digelar lomba paling keras suara petasan. Kabut asap mendekap, kertas petasan berhamburan di mana-mana. Pastilah membuat geram petugas kebersihan. Tapi percayalah mereka tidak main petasan saja. Di beberapa tempat duduk santai, anak-anak seusia SMP itu duduk berpasangan lain jenis. Pacaran.

Ramadhan, seperti hari-hari besar lainnya (Lebaran, Natal, Tahun Baru), telah jadi agenda komoditas para pemilik modal. Suplai barang-barang tak berguna disuapkan ke mulut masyarakat. Masyarakat yang sudah konsumtif akibat terkondisikan oleh beragam tayangan iklan di media massa mau-mau saja membeli barang. Punya duit, beli. Tak punya duit, gigit jari. Barang komoditas itu termasuk petasan.

Di beberapa masjid yang saya lewati, tak terlihat tukang petasan di dekatnya. Inilah yang membuat saya makin tersiksa. Sebab di masjid dekat rumah saya, ada lapak tukang petasan yang berdiri gagah. Lapak berdiri di depan sebuah rumah yang memfasilitasi tempat dan lampu. Tukang petasan ini rasanya akan susah diusir—kalaupun ada yang bersunguh-sungguh mengusirnya—karena bisa jadi pembela pertamanya adalah pemilik rumah yang diuntungkan oleh keberadaannya. Duit tak kenal Tuhan, sebab duit sudah dituhankan oleh para pemujanya.

 

Duren Sawit, 15 Agustus 2010. 16.19 WIB