Spread the love

Sudah dibaca 911 kali

“Di negeri ini, bahkan di belahan dunia manapun, banyak jalan jadi orang berduit secara tidak rasional.  Syaratnya satu: punya jabatan.” Memet menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. “Aku sangat yakin, orang macam begini, di negeri ini, segudang jumlahnya.”

Cepi meringis. “Aku pun tak habis pikir. Tapi aku tak mau terus memikirkannya, khawatir pikiranku habis buat memikirkan hal-hal itu.”

“Bagaimana bisa seorang polisi berpangkat Ajun Inspektur Satu alias Aiptu punya bisnis triliunan rupiah?”

“Ucapanmu sangat naif, Met. Itu sama saja menyangkal keyakinanmu sendiri. Tapi itulah yang terjadi. Hati kecil kita selalu menyangkal keyakinan kita pada sesuatu yang benar namun sebenarnya salah.” Cepi berkata seperti filosof mabuk: kadang tidak mengerti ucapan sendiri karena kata-kata itu tiba-tiba muncul dan muncrat tak terkendali.

“Bagaimana bisa profesi semulia polisi berisi tikus-tikus kurap seperti itu? Masak polisi jualan minuman keras? Masak polisi bisnis bahan bakar minyak ilegal? Masak polisi bisnis kayu ilegal? Rekrutmen polisi di Papua sana pasti sangat amburadul!” Memet geram.

“Ssst!” Cepi buru-buru menutup mulut Memet, tepatnya menyekap. “Jangan keras-keras bicara begitu di sini, Met! Ketahuan, bisa habis kau!”

“Biarlah mereka habisi aku! Aku cuma bicara apa adanya. Ini negara demokratis, tak siapapun boleh membungkam suara orang-orang galau macam aku!”

Dalam hati Cepi membenarkan kata-kata Memet. Buruknya SDM sebuah instansi dan lembaga diawali oleh proses rekrutmen yang buruk. Jika rekrutmen buruk, siap-siaplah hancur instansi itu. Sebelum melamar jadi polisi, Aiptu LS adalah penjual minuman keras. Setelah jadi polisi pun masih menjualnya. Tak mungkin pembuat orang mabuk membuat baik citra polisi.

“Kita tinggal tunggu kabar saja soal pengusutan oleh Polda Papua. Kabarnya, banyak petinggi polisi yang  terlibat.” Usai bicara, Memet seperti tak percaya dengan kata-katanya sendiri.

“Kau yakin?”

“Maksudmu?”

“Kau yakin pejabat tinggi polisi ikut diseret ke pengadilan? Ingat kasus Irjen DS? Awalnya Polri habis-habisan ingin menangani kasus ini dari KPK. Belakangan kita tahu aliran dana DS ke institusi itu juga ada. Lalu bagaimana kasus dua polisi dan satu tentara yang jadi beking perbudakan buruh kuali di Tangerang? Adakah tindak lanjutnya?” Cara bicara Cepi seperti pengamat hukum yang biasa berkoar di televisi.

Memet nyengir. “Aku tidak tahu. Dalam pemberantasan korupsi, apalagi yang melibatkan anggota polisi, banyak orang lebih percaya KPK. Tapi apa urusan kita?”

Cepi menghela menatap langit-langit. “Ya, kita tidak punya urusan dengan itu. Urusan kita saat ini adalah bagaimana supaya bisa lepas dari kasus korupsi yang menjerat kita.”

Ucapan Cepi seperti cuka yang melumuri sayatan luka di hati Memet. Berulangkali situasi yang dikritisinya berbalik mengkritisinya. Seolah ia tak berhak berkata-kata sepuas hati.

Melihat Memet bersedih, Cepi trenyuh. Ia mendekati sohib dekatnya itu. “Maafkan aku, Met. Aku tak bermaksud menyakitimu.”

Memet membiarkan tangan Cepi mengusap-usap punggungnya. Ada getaran aneh yang merambat ke sekujur tubuhnya tiap usapan itu berjalan satu rit. “Kau sendiri tak sadar, Cep? Kau pun seorang koruptor.”

Cepi terkejut, namun tangannya masih mengusap punggung Memet. “Kau berkata seperti kau lebih suci dariku, Met.”

“Aku tidak menganggap diriku suci!”

“Kata-katamu yang tadi…”

“Kata-kata yang mana?”

“Kata-katamu yang….”

“Yang mana?”

“Yang…”

“Yang mana?!”

Buk! Punggung Memet memantulkan suara keras. Telapak tangan Cepi mendarat darurat di punggungnya.

Memet merajuk. Matanya melotot. Cepi juga merajuk. Matanya juga melotot. Sebentar lagi perang Bharata-Yudha dimulai.*

 

Jakarta, 22 Mei 2013.