Spread the love

Sudah dibaca 945 kali

“BILL, Bill, lho, Bill, kok motornya goyang-goyang?!” pekik Ibu di belakangku.

“Ibu…!” Aku ikut-ikutan panik. Aku berusaha menyeimbangkan kondisi motor. Memang kendaraan roda dua yang kami kendarai bergoyang, tak seimbang. Aku saat itu memastikan ban bocorlah penyebabnya. Sebab, beberapa detik sebelumnya, aku merasa sedang naik motor Harley Davidson: posisi duduk bagian belakang lebih rendah ketimbang bagian depan. Istilah kerennya: jomplang.

Motor berada tepat di tengah badan jalan. Kecepatan perlahan kukurangi, dari sekitar 60 kilometer per jam hingga 0 kilometer per jam alias berhenti. Ya, kami berhenti di tengah jalan. Jalan Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat. Dekat Roxy Square.

Situasi jalanan dipenuhi kendaraan roda empat, roda tiga, dan roda dua. Untunglah tidak tampak kendaraan roda 16 atau selebihnya alias kontainer. Di tengah jalan itu kami berjalan hati-hati menuju pinggiran jalan.

Aku menuntun motor sembari menyapu pandang ke sekeliling. Mencari tukang tambal ban. Tak tampak sama sekali. Aku terus berjalan, menuntun motor yangg lama-lama terasa berat. Napasku tersengal-sengal. Di belakangku Ibu bantu mendorong. Ia tahu aku kecapekan.

Oh Ibu, aku tidak tahu lukisan apa yang sedang tergambar di wajahmu. Barangkali kecewa dengan kondisi yang ada, atau prihatin, atau…aku tidak tahu. Ini kali kedua kita melintas di atas jalan ini. Tiga hari lalu, 16 Januari, kita pernah melewatinya. Untuk sebuah tujuan yang sama.

“KOK ditelepon tempat karaoke ya?” tukas Merlin, adikku, heran.

“Mungkin nomor yang Ibu catat salah,” ucapku.

Nomor yang dihubungi memang tertera di kertas kusam: deretan angka bertinta hitam. Beberapa hari lalu Ibu menyimak sebuah acara di televisi, tentang praktik pengobatan Shin Se yang dapat mengobati berbagai penyakit. Termasuk sakit pengapuran yang Ibu derita. Tetapi setelah dihubungi, ternyata nomor itu dimiliki tempat karaoke.

Sudah enam bulan pengapuran hinggap di pinggul Ibu. Kalau datang rasanya ngilu setengah mati, katanya. Sebelumnya sakit itu menyergap lututnya selama dua tahun. Setelah terapi sebulan di Rumah Sakit Duren Sawit, kondisinya membaik. Dokter yang merawatnya menghentikan terapi.

Saat mendengar Shin Se dan keinginan Ibu untuk mengobati sakitnya, aku langsung mengiyakan. Aku ingin sekali mengobati penyakitnya. Namun sayang, Ibu hanya mencatat nomor telepon dan sebuah alamat Kavling Polri di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Ia tak mencatat alamat Shin Se. Aku butuh alamat itu agar bisa melacaknya lewat peta elektronik.

Merlin bertanya pada temannya di mana gerangan Kavling Polri. Kata temannya, lokasi itu ada di Jalan Indraloka atau Jalan Hadiah. Kucari di peta elektronik, ternyata lokasi itu di sekitar Jalan Hadiah.

Maka Sabtu sore 16 Januari 2010, usai shalat Ashar, kami meluncur ke Kavling Polri. Pikir kami, karena tempat pengobatan, pastilah buka tiap hari dan sampai malam.

Karena waktu sudah sore, aku melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Lurus saja dari Jalan Kolonel Sugiono, lalu Jalan Casablanca, lewat Pasar Tanah Abang, baru membelok di ujung Jalan Cideng Timur. Di perempatan Jalan Hasyim Ashari kami membelok ke kiri, lurus melewati jembatan panjang di depan Roxy Square di atas Banjir Kanal, melintasi perempatan depan Citra Land, lalu berbalik arah ke Jalan Hadiah.

Kami belum tahu pasti di mana lokasi Shin Se. Peta elektronik tak beri gambaran detail. Jawaban seorang petugas keamanan saat ditanya Ibu tak berhasil mengentaskan ketidaktahuan itu; kami malah tambah bingung dengan keterangannya. Kami terus menyusuri jalan kompleks sambil mencari kecocokan dari keterangannya; ketemu pertigaan belok kanan, nanti ada portal dan tulisan Shin Se.

Memang benar ada pertigaan dan kami menemukannya, tapi itu berada di ujung Jalan Hadiah dan ke arah kanan adalah Jalan Swadaya menuju Jalan Indraloka. Kami sudah jauh dari Jalan Hadiah. Usai membelok ke kiri di Jalan Swadaya, kami berhenti untuk bertanya. Ibu turun, menyeberang, dan bertanya pada seorang ibu pedagang.

Dari seberang aku melihat ibu itu tidak tahu. Ibu beralih tanya pada seorang bapak pedagang. Penasaran, aku mendekatinya. Bapak itu menyarankan kami berbalik arah. Namun ia tidak tahu lokasi Shin Se.

Di tempat itulah aku mengetahui ban belakang motorku kempes. Kuperiksa ban, tak ada paku yang menancap. Terpaksalah aku menyeret motor menyusuri Jalan Swadaya yang ramai oleh pedagang. Ada beberapa bengkel motor di pinggir jalan, anehnya tak satupun yang buka jasa tambal ban.

Sekitar seratus meter kami baru menemukan tukang tambal ban. Setelah diperiksa ketahuan ban memang tidak kena paku. Ban dalam sobek sedikit.

Ibu mengobrol santai dengan istri tukang tambal ban. Dari keterangannya, juga keterangan seorang pemuda, kami akhirnya tahu lokasi Shin Se. Nanti balik arah, setelah ketemu pos polisi belok kiri, kemudian belok kanan setelah ketemu masjid. Praktik Shin Se ada di sebelah kiri. Pemuda itu menjelaskan dengan nada pasti.

Udara dingin membuatku ingin buang air kecil (BAK). Aku bertanya pada mereka dengan ragu: di dekat sini ada toilet umum? Mereka menunjuk lokasi masjid dekat pasar.

Dalam perjalanan menuju masjid benakku tersenyum-senyum pada sebuah cerita lama tentang salah satu motivasi orang mencari masjid, yaitu untuk numpang BAK. Dan kini cerita itu aku alami sendiri. Bagaimana jika ada orang yang ‘menangkap basah’ aku melakukannya? Sementara aku, kini, ke masjid, tujuannya memang satu itu. Sedangkan aku sudah shalat Ashar.

Sudahlah. Tertawakan saja cerita itu. Setelah mendapati masjid yang dimaksud dan dengan perasaan lega keluar dari toilet, aku kembali menuju bengkel. Keluar dari masjid, beberapa anak yang berdiri di depan gerobak mainan samping masjid bertanya padaku, “Pak, mau beli mainan.” Aku tersenyum. “Wah, saya bukan penjual mainan, Dik!” ujarku. Aku pakai jaket oranye rada eksklusif dan celana panjang hitam, apakah cukup pantas dianggap penjual mainan? Hm, sudahlah, yang penting hajat sudah ditunaikan.

Setelah ban ditambal, kami menyusuri jalan sebagaimana petunjuk tadi. Alhamdulillah, ketemu. Namun sayang, sudah tutup. Di plang depan rumah Shin Se tertera waktu praktik mulai pukul 07.00-14.00.

Kami kembali pulang. Di tengah jalan aku berkata pada Ibu, “Kita ke sini hanya buat tambal ban.” Ibu tertawa. Kami bertanya-tanya kapan bisa kembali ke Shin Se. Sebab kami sama-sama sibuk kerja.

Tiga hari kemudian, Selasa 19 Januari, kami kembali ke Kavling Polri. Sebenarnya Selasa itu aku ada urusan dengan seorang paman, mengantarkannya kembali ke stasiun Tebet di tengah ancaman gerimis, dan menjadwalkan hari itu tidak ke kantor. Mengingat Shin Se, aku mengajak Ibu kembali ke sana.

Pukul 11.30 kami berangkat. Aku mempersiapkan dua jas hujan, jaga-jaga sebab Jakarta sejak pagi mandi hujan. Langit pun berawan.

Kami tiba di praktik Shin Se pukul 13.00. Setelah memarkir motor di seberang tempat praktik, kami masuk. Sepi. Hanya ada seorang ibu hamil berpakaian hijau muda berkerudung duduk sembari membaca koran. Ia menyarankan kami mengetuk pintu agar petugas jaga keluar.

Tak berapa lama petugas jaga, seorang perempuan agak gemuk, keluar. Ia duduk di meja pendaftaran. Aku dan Ibu mendekat.

“Sudah tahu berapa biaya sekali periksa?” kata penjaga itu sembari pura-pura menulis.

“Nggak. Ini baru sekali datang ke sini,” jawab Ibu.

“Dua koma tiga juta.”

Kami langsung diam. Dadaku sesak. Mahal sekali, batinku. Aku berpikir bisa saja membiayainya kendati harus mencari dulu mesin Anjungan Tunai Mandiri. Tapi pastilah pemeriksaan dan terapi tidak cuma sekali. Berkali-kali. Dan itu pasti memakan banyak biaya. Aku pun, yang meniatkan diri untuk memeriksakan asmaku, mengurut dada.

Kami duduk di kursi plastik putih sembari bicara lirih. Tak lupa kartu nama Shin Se di atas meja kuambil. Jujur saja, itu pembicaraan basa-basi. Kami tak mungkin memaksakan diri melakukan terapi di situ lantaran biayanya kami anggap sangat besar.

Kami keluar dengan perasaan kecewa. Otakku bergejolak. Aku protes: kenapa untuk bisa sehat mahal sekali? Di sisi lain, aku juga sedih tak bisa membantu Ibu mewujudkan keinginannya lepas dari penyakit itu.

Saat membuka gembok motor dan bersiap naik motor, pikiranku mengingat pada sebuah buku yang terbit beberapa tahun lalu berjudul Orang Miskin Dilarang Sakit karya Eko Prasetyo—karya sebelumnya Orang Miskin Dilarang Sekolah.

Ibuku Ketua Posyandu, kader penyuluh kesehatan di Kelurahan Duren Sawit, dan kepadanyalah warga RW 01 minta persetujuan jika hendak mengajukan surat permohonan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebelum melanjutkan ke tingkat Kelurahan atau Kecamatan. Dan kini, untuk mengobati diri sendiri, ia harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar? Aku tidak terima! Aku menolak takluk pada slogan ‘Sehat Itu Harganya Mahal’!

Masih ada pengobatan yang lebih murah dari itu. Anggap saja Shin Se itu hanya mengobati orang berduit. Dan berbaik sangka saja terhadapnya. Mungkin belum jodoh saja, hiburku pada hati.

Di atas motor, dengan rasa prihatin aku berkata, “Bu, sabar ya. Kita cari pengobatan yang murah meriah.”

Aku tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Ia tersenyum saja.

Kami kembali pulang dengan tangan hampa, melintasi Jalan Kyai Tapa yang padat. Di tengah jalan itu aku merasa seperti naik motor gede Harley Davidson.

SEKITAR 150 meter kemudian kami menemukan tukang tambal ban. Sebelumnya, seorang tukang asongan yang menggelar barang dagangannya di trotoar bertanya; berteriak dengan suara samar. Ban kempes, jawabku. Ia menunjuk tukang tambal ban dan memberi keterangan secara samar. Suaranya tertelan deru kendaraan dan jarak kami sekitar 10 meter. Aku hanya dengar ia berkata tukang tambal ban ada dekat tukang bajaj.

Aku melihat tukang bajaj. Di perempatan Jalan Rawa Bahagia 1. Dekat warung kaki lima tampak tukang tambal ban. Seorang pemuda sedang mengisi angin ban bajaj yang kecil.

Aku menduga ban dalam bocor. Barangkali tambalan tiga hari lalu lepas. Benar saja. Saat dibuka, tambalan itu sedikit lepas. Sobekan ban dalam makin lebar. Harus ganti ban dalam!

Sembari menunggu tukang tambal ban melakukan tugasnya, aku bertanya padanya ihwal truk yang berderet di sepanjang pinggir Jalan Rawa Bahagia 1. “Itu sejak tahun 60-an,” katanya. Truk menganggkut barang apa saja, termasuk sayur-sayuran. Selain truk, juga mangkal pedagang makanan dan tukang bajaj.

Aku merasa tak asing berada di tempat itu. Suasana ini terbangun sejak pedagang asongan di trotoar memberi tahu lokasi tukang tambal ban. Ibu sendiri asyik makan roti, minum teh botol, dan makan pisang ditemani ibu penjaga warung.

Aku pamit hendak shalat Zuhur di masjid. Usai berwudhu, di dalam masjid seorang lelaki setengah baya bersarung kudaulat sebagai imam. Seorang lelaki yang baru masuk kuajak berjamaah. Anehnya, setelah memerhatikan dengan nanar imam bersarung itu, lelaki berseragam krem itu berkata seperti menggerutu, “Nggak pake sarung.” Lalu ia menjauhi kami dan shalat sendiri. Aku bingung dibuatnya. Sudahlah, mungkin dia ingin cepat menyelesaikan shalat, pikirku.

Ternyata lelaki berseragam krem itu tidak buru-buru menyelesaikan shalat. Aku lebih dulu selesai. Bahkan ia masih wirid saat aku keluar masjid. Aku bertanya-tanya, hikmah apa yang sedang menari-nari di hadapanku.

Usai tambal ban, kami kembali menyusuri jalanan Jakarta yang padat. Angin berembus kencang. Udara dingin menjalar. Langit masih kelabu.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu, 21 Januari 2010.