Spread the love

Sudah dibaca 2034 kali

Bambang Indriyanto
Bambang Indriyanto

Rapor tak menentukan nilai seorang anak. Kenapa? Sebab rapor hanya menilai aspek kognitif anak itu. Aspek lain, yang merupakan kelebihannya, diabaikan. Makanya jangan buru-buru bersedih saat di rapor anak, keponakan, saudara, atau cucu kita bertengger nilai merah.

Jadi, sikap apa yang harus diambil ketika mendapati rapor anak, keponakan, saudara, atau cucu kita berserakan nilai merah? Biasa saja, tak perlu menulis status di akun Facebook, Twitter, atau WhatsApp. Nanti dibilang galau! Atau bakal dirundung (bully) punya anak, keponakan, saudara, atau cucu yang malang. Sekali lagi, biasa saja. Tarik napas, pejamkan mata, dan pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Lakukan hal ini sampai anak, keponakan, saudara, atau cucu kita pergi menjauh.

Kalau anak, keponakan, saudara, atau cucu yang mendapat nilai merah bersedih, menangis, atau teriak-teriak sambil berguling-guling, dekati dia dan ucapkan kalimat lembut, “Tak usah kau bersedih, sayang. Saat kita mati, malaikat tak akan bertanya jumlah nilai merah di rapor kita.” Jika ia kemudian bertanya, “Tapi kalau ditanya, apa jawabnya?” Kita bisa menghiburnya, “Ya jawab saja dengan jujur. Kan dosa kalau berbohong. Apalagi malaikat tak bisa dibohongi.”

Rapor tak menjamin orang hidup senang. Banyak sekali orang sukses dan hidup senang bukan karena nilai rapor. Sebaliknya, banyak juga orang yang nilai rapornya tak pernah merah malah tak hidup sukses dan senang. Tak percaya?

Berapa banyak pejabat di negeri ini yang bergelar sarjana, master, doktor, bahkan profesor yang masuk penjara? Banyak, terutama dari kalangan pejabat! Nilai rapor mereka pasti jarang atau tak pernah merah. Lalu kenapa mereka masuk penjara dan tak hidup senang? Itu karena nilai mereka di luar rapor merah semua!

Jadi sebenarnya seorang anak mesti dinilai dari nilai yang berada di luar rapornya, bukan nilai di dalam rapornya. Bingung, kan?

Daripada bingung, yuk kita simak cerita seorang pejabat yang ‘rajin’ memelihara nilai merah di rapornya saat duduk di bangku sekolah!

Namanya Dr. Bambang Indriyanto. Tubuhnya jangkung, tampak serius namun tak pelit senyum. Pada 2009, saat saya mengelola laman Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud (Sekarang Ditjen Dikdasmen Kemendikbud), beliau menjabat Sekretaris Ditjen Mandikdasmen.

Sebagai pejabat eselon II, beliau sering membuka acara yang saya liput. Saya selalu senang mendengar kata-katanya. Runtun, sistematis, dan jelas tersampaikan. Selalu ada hal baru yang saya dapat. Ada paradigma berpikir yang senantiasa ditawarkan dalam menilai dan memecahkan sebuah masalah. Mungkin hal demikian terjadi karena basis akademisnya adalah peneliti—sebelumnya beliau bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Depdikbud.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah keseimbangannya dalam menyampaikan materi. Ia tampak serius saat menyampaikan materi. Tapi pada momen berikutnya ia bisa membuat hadirin tertawa. Keseimbangan ini, menurut saya, tak semua orang bisa melakukannya.

Saya berani membandingkan. Jika Prof. Suyanto, Ph.D, Direktur Jenderal Mandikdasmen saat itu, proporsi materi serius dan humornya 30:70, maka beliau 50:50. Kendati demikian, kadang, saat saya melihat keduanya bertemu, suasana di sekelilingnya mendadak cair. Yang ada suasana humor.

Mungkin kita semua berpikir orang seperti Pak Bambang ini adalah orang jenius saat duduk di bangku sekolah. Ternyata tidak! Kemarin* dia bercerita tentang ‘prestasinya’ saat menimba ilmu di bangku SD hingga SMA. “Setiap rapor yang saya terima tidak ada rapor tanpa merah. Merahnya mesti 4. Bahkan ketika saya masuk SMA, saya tidak diterima,” katanya.

Ia memang tidak diterima masuk SMA negeri. Namun, setelah 2 minggu pelajaran di mulai, ia kembali datang ke sekolah yang pernah menolaknya. Saat itu ia ‘dihadang’ oleh tukang kebun.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya tukang kebun.

“Ya siapa tahu dapat sekolah di sini,” jawab Bambang remaja.

Betul saja. Setelah bertanya ke pihak sekolah, ternyata masih ada satu kursi yang kosong.

“Akhirnya saya masuk ke situ. Bukan karena lulus tes, tapi lolos tes,” kenangnya. Hadirin tertawa. Termasuk saya.

Kemudian perjalanan hidupnya memberi makna baru bagi dirinya. Lulus SMA ia ingin kuliah di Universitas Diponegoro, tapi ternyata ia dapat kuliah di Universitas Gadjah Mada. Lulus kuliah ia tidak bisa melanjutkan studi ke Amerika Serikat, tapi ia diterima menjadi dosen. Setelah menjadi pegawai selama 4 tahun, akhirnya keinginannya bersekolah di Amerika Serikat terkabul.

Ketika ia diterima di UGM, teman-temannya yang tahu dia ‘bodoh’ tak langsung percaya. Mereka berkata, “Kamu bercanda.” Setelah beliau menunjukkan kartu mahasiswa, mereka berucap heran, “Wah, kamu pakai ilmu apa?”

Ketika beliau lulus dari studi S-3 di AS, teman-temannya belum lulus S-3. Teman-temannya tak banyak komentar kecuali, “Nggak nyangka ya.”

Pengalaman ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang ‘bodoh abadi’. Pak Bambang, dalam pandangan sempit sebagian orang, diduga akan mengalami masa depan suram alias madesu karena rapor SD hingga SMA-nya selalu mengoleksi warna merah. Ia baru menunjukkan prestasi sesungguhnya setelah duduk di bangku kuliah. Di kampus ia tak pernah mendapat rapor merah!

Kembali ke rapor merah. Mata pelajaran yang dinilai dalam berlembar-lembar rapor semuanya mengukur aspek kognitif. Tak ada aspek afektif dan psikomotorik. Pertanyaannya, apakah semua siswa harus hebat di bidang kognitif? Apakah jika nilai matematika, IPA, dan sains seorang siswa bagus akan menjamin nilai lainnya tinggi? Faktanya: tidak!

Seorang siswa yang dikatakan jenius karena memiliki skor tertinggi pada mata pelajaran matematika dan sains belum tentu bisa menulis, menggambar, atau berenang. Sebaliknya, siswa yang bisa menulis, menggambar, atau berenang belum tentu memiliki nilai matematika dan sains yang keren. Maka salah jika membandingkan Albert Einstein dengan Michael Jordan: siapa yang lebih hebat?

Salman Khan, dalam bukunya One World School House—diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul sama oleh Nadiah Abidin, teman saya (saya bangga menuliskan ini: iya, dia teman saya)—mengatakan bahwa setiap anak memiliki kekhasan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Tak bisa kemampuan anak diseragamkan untuk hebat dalam suatu mata pelajaran tertentu.

Munif Chatib, dalam bukunya Sekolah Anak-anak Juara, menulis bahwa tiap anak memiliki cara belajar masing-masing. Seharusnya guru mengajar sesuai dengan cara anak belajar. Bukan sebaliknya. Yang sekarang banyak terjadi, guru menyamaratakan perlakuan mengajarnya kepada murid-muridnya.

Cara belajar jadul seperti itu akhirnya membuahkan fenomena lucu: ketika orangtua diminta menggambar pemandangan alam, maka mereka rata-rata akan menggambar dua gunung dengan satu matahari di atasnya, persawahan di bawahnya, dan jalan lurus di tengahnya.

Siswa yang hebat ilmu fisika tak bisa dipaksa untuk piawai menulis novel. Ia hebat di bidang logika namun lemah di bidang linguistik. Begitu pun sebaliknya. Lalu apa yang bisa menjelaskan hal ini? Soal ini kita bahas lain waktu.

Kembali ke tema rapor merah. Kalau Anda punya anak, keponakan, saudara, atau cucu yang nilai rapornya selalu bagus dan tak pernah berwarna merah, jangan yakin dulu bahwa hidupnya akan sukses dan senang. Jadi, kalau begitu, buat apa ada rapor?

Ini soal persepsi dan paradigma saja. Rapor sekadar laporan nilai seorang siswa pada bidang tertentu dan kurun waktu tertentu saja. Kata Om Salman, itulah kenapa kesuksesan seseorang tak bisa dinilai melalui rapor. Sebab, seiring perjalanan waktu, seorang anak akan menjalani kehidupan dan memberinya pengalaman baru untuk terus belajar memperbaiki kualitas diri.

Orang sukses selalu memperbaiki kualitas dirinya. Bangkit dari keterpurukan. Bangun dan bangun ketika mereka jatuh dan jatuh. Mereka menikmati proses. Sebaliknya, orang bodoh senantiasa bangga dengan pencapaian prestasinya. Mengatasi masalah dengan mengeluh dan mengeluh. Ketika jatuh sulit move on. Ketika runtuh langsung bloon. Mereka mendamba hasil.

Jadi, kalau anak, keponakan, saudara, atau cucu kita dapat rapor merah, tak perlu galau. Biasa saja. Anggap saja itu nasib. Nasib, kan, bisa diubah kalau kita bekerja keras untuk mengubahnya. Iya, kan?*

 Depok, Jawa Barat

* Pak Bambang bercerita tentang masa lalunya saat menjadi pembicara pada acara Rapat Kerja Nasional Usaha Kesehatan Sekolah di Hotel Bumi Wiyata Depok, Jawa Barat, pada 17 September 2015.