Sampul Buku Jejak-jejak Mas Gagah

Judul: Jejak-jejak Mas Gagah 2 

Genre: Nonfiksi

Penerbit: Pipiet Senja Publising House

Tahun terbit: Juni 2015

 
———————————————————————————————————————————————————–

Sampul Buku 27 Wajah Guru oks

Judul: 27 Wajah Guruku 

Genre: Nonfiksi

Penerbit: Luxima

Tahun terbit: April 2014

———————————————————————————————————————————————————–

Remaja Puber Remaja Super ok

Judul : Remaja Puber Remaja Super

Genre: Nonfiksi

Penerbit: Tinta Medina

Tahun terbit: 2011

———————————————————————————————————————————————————–

Judul: Pelangi di Ujung Gerimis

Genre: Nonfiksi

Penerbit: Mandiri

Tahun terbit: Januari 2010

———————————————————————————————————————————————————–

Gadis Kota Jerash

Judul: Gadis Kota Jerash

Genre: Fiksi

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House 

Tahun terbit: Desember 2009

———————————————————————————————————————————————————–

suparman

Judul: Suparman Pulang Kampung

Genre: Fiksi

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House

Tahun terbit: Mei, 2007

Melanjutkan antologi cerita pendek (cerpen) sebelumnya yang sukses di pasaran yaitu Badman: Bidin!, Penerbit LPPH kembali menerbitkan antologi cerpen lucu, masih dengan teman kepahlawanan. Jika sebelumnya pahlawanannya Batman, sekarang Superman.

Cerpen kocak di buku ini berjumlah 11 naskah.

Boim Lebon masih jadi ‘bintang’ di buku ini. Dua cerpennya termuat dalam buku ini, salah satunya menjadi judul buku ini: Suparman Pulang Kampung.

Buku antologi cerpen lucu ini, sama dengan Badman: Bidin!, menyuguhkan cerita-cerita kocak yang segar dan inspiratif. Cukup menghibur bagi orang-orang yang galau dan butuh perhatian.

———————————————————————————————————————————————————–

Lebih Baik Aku Tak Masuk Surga ok

 Judul: Lebih Baik Aku Tak Masuk Surga

Genre: Fiksi

Penerbit: Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika Universitas Negeri Jakarta

Tahun terbit: April, 2006

Buku antologi cerita pendek ini memuat 13 naskah. Hasil seleksi atas sejumlah naskah yang masuk dari sayembara yang digelar di lingkungan kampus Universitas Negeri Jakarta. Penerbitan buku antologi cerpen ini merupakan produk perdana yang dibuat oleh Unit Kegiatan Mahasiswa di bidang pers ini di mana kegiatan utamanya adalah menerbitkan majalah Didaktika. Saya cukup beruntung cerpen saya bisa masuk di buku ini, semoga bukan karena saya pernah bergabung di organisasi ini.

Pengantar buku ditulis oleh sastrawan Zen Hae. Ia mengulas banyak hal terkait teknik penulisan cerpen dan perkembangan pemuatan cerpen di media massa. Ia pun mengkritik sejumlah cerpen di buku ini yang menurutnya lumayan baik dan pantas dia kritik.

———————————————————————————————————————————————————–

Kupu-kupu dan Tambuli

Judul: Kupu-kupu dan Tambuli

Genre: Nonfiksi

Penerbit: Dewan Kesenian Jakarta dan Forum Lingkar Pena

Tahun terbit: Februari, 2006

———————————————————————————————————————————————————–

Badman-Bidin

 Judul: Badman: Bidin!

Genre: Fiksi

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House

Tahun terbit: Desember, 2005

Ini buku antologi cerita pendek (cerpen) yang sangat kocak. Berisi sepuluh cerpen yang semuanya bertujuan membuat pembacanya tertawa. Disusun oleh sastrawan Asma Nadia (ia CEO LPPH), buku ini menghadirkan cerita-cerita lucu namun segar seputar kehidupan anak muda.

Saya merasa bangga cerpen saya bisa masuk dalam antologi ini. Pertama, berhasil lolos seleksi. Naskah di buku ini adalah cerpen terpilih. Tak semua penulis yang mengirimkan karyanya untuk ikut seleksi lolos. Kedua, ini cerpen pertama saya yang bertema lucu dibukukan. Ketiga, saya kemudian menyadari membuat cerpen lucu harus dengan cara sangat serius. Tak semua orang bisa membuat cerpen lucu, bahkan oleh penulis sekelas Asma Nadia yang sudah meraih sejumlah penghargaan kepengarangan—ia jujur menjelaskannya pada Kata Pengantar di buku ini. Keempat, cerpen lucu saya diterbitkan bersama cerpen penulis lain yang sudah terkenal yaitu Hilman Hariwijaya dan Boim Lebon! Hilman adalah penulis cerita serial legendaris Lupus. Sedangkan Boim adalah penulis kocak yang telah menerbitkan sejumlah buku fiksi lucu dan di kemudian hari membuat serial Lupus lanjutan bersama Hilman.

Buku antologi cerpen lucu ini tergolong laris di pasaran. Dalam rentang tiga tahun, pada April 2008, buku ini telah memasuki cetakan ke-8.

———————————————————————————————————————————————————–

Jatuh Bangun Cintaku ok

Judul : Jatuh Bangun Cintaku(LPPH, April 2005) 

Genre : Nonfiksi

Penerbit :Lingkar Pena Publishing House

Tahun Cetak : November, 2005

Saat buku ini terbit dan dijual di toko buku, saya berharap tak satupun teman kampus membacanya. Perasaan malu dan minder itu muncul mungkin karena lingkungan saya adalah para aktivis yang jarang bicara soal cinta dengan beragam ekspresinya.

Ya, buku ini berisi pengalaman cinta saya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga kuliah. Saya bercerita tentang bagaimana saya mengekspresikan perasaan suka pada sejumlah perempuan yang saya taksir disertai kegagalan dalam melanjutkannya ke jenjang yang lebih intim. Saya menutup cerita dengan menyebutkan sejumlah kriteria perempuan idaman dan aksi menghibur diri: jadi jomblo keren yang bahagia! Pada sebuah mailing list, masih di cerita itu, saya menggagas pendirian organisasi bernama Ikatan Jomblo Keren Indonesia.

Buku antologi esai tentang cinta ini dapat menjadi referensi dan sarana hiburan bagi orang-orang yang galau dan bingung dalam mengelola kehidupan cintanya. Buku dikemas dengan bahasa yang santai dan dilengkapi komik.

———————————————————————————————————————————————————–

sampul GBBDL

Judul : Gue Bukan Bintang di Langit

Genre : Fiksi

Penerbit : Lingkar Pena Publishing House

Tahun Cetak : April, 2005

Terbitnya buku ini pada 2005 merupakan pengabulan Tuhan atas doa saya: pada usia 25 tahun, saya ingin menerbitkan buku minimal satu judul. Alhamdulillah, seminggu setelah hari ulang tahun saya, kiriman paket buku tiba di rumah. Saya sangat senang. Karena waktu tiba buku berdekatan dengan pelatihan menulis jurnalistik yang saya isi, maka satu eksemplar novel ini saya jadikan hadiah kepada peserta pelatihan yang merupakan siswa SMA. Pelatihan jurnalistik itu di gelar di sebuah kampus di Jakarta Barat.

Buku ini tergolong teenlit. Sasarannya siswa sekolah menengah. Isinya seputar dunia jurnalistik—dunia mengagumkan yang saya geluti sebagai jurnalis pers kampus. Novel ini sangat idealis yaitu mengusung tema pemberantasan korupsi di sekolah. Juga tak memuat tema cinta anak sekolah yang selalu menjadi tema sentral novel teenlit dan chiklit.

Novel perdana ini saya tulis dengan penuh ‘penderitaan’. Pada 2003, saya tidak punya komputer. Jadilah saya menulis naskah dengan menuliskannya di lembaran-lembaran kertas kosong bekas dengan pensil. Setelah selesai, saya mengetik naskah itu ke komputer di rental seberang kampus Universitas Negeri Jakarta. Sambil mengetik naskah, saya mengedit tulisan. Yang repot, sering tulisan tangan saya tak terbaca oleh saya sendiri!

Pada 2004, saya mengirim naskah ke penerbit LPPH. Agak lama saya mendapat pemberitahuan dari pihak penerbit bahwa naskah novel ini akan diterbitkan. Belum lagi, jadwal penerbitannya diundur hingga awal 2005.

Novel ini menjadi pintu masuk saya dalam berkarier di dunia kepenulisan profesional. Sekaligus pembuktian pada diri sendiri bahwa saya bisa menulis tak hanya bergenre nonfiksi dan ilmiah. Saya pun bisa membuat tulisan bergenre fiksi.

———————————————————————————————————————————————————–

Matahari Tak Pernah Sendiri 2 ok

Judul: Matahari Tak Pernah Sendiri 2

Genre: Nonfiksi

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House

Tahun Cetak: Desember, 2004

Pada awal Juni 2003, ketika menjaga stan Forum Lingkar Pena (FLP) di depan Gedung Gelora Bung Karno, Helvy Tiana Rosa mendekati saya dan berkata dengan ramah, “Billy, maaf ya judul tulisannya Mbak ganti.”

“Tulisan yang mana, Mbak?” tanya saya pada sastrawan pendiri FLP itu.

Ia menjelaskan tentang tulisan esai yang pernah saya kirim. Mendengar penjelasannya, hati saya berbunga-bunga. Baru kali ini tulisan saya dibukukan dan diterbitkan. Yang membaggakan saya waktu itu, yang memberi tahu saya langsung adalah Mbak Helvy sendiri!

Buku antologi esai ini merupakan seri ke-2 yang disusun oleh Mbak Helvy—saya memanggilnya demikian. Buku yang ditulis dengan gaya Chicken Soup for the Soul ini berisi ulasan atas sosok (profil) dan pengalaman para aktivis FLP dalam membangun FLP.

Di buku ini, terungkap begitu banyak cerita suka-duka yang dialami anggota FLP dalam membangun masyarakat melalui jalur literasi. Mereka menghabiskan banyak waktu, pikiran, tenaga, dan harta dalam menularkan semangat menulis di kalangan masyarakat luas. Semua dilakukan atas dasar sukarela dan tanpa bayaran. Anggota FLP beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, petani, hingga buruh pabrik.

Di buku ini (hal. 180-183), esai saya berjudul Belajar dari Azimah. Naskah bercerita tentang pengalaman saya bergabung dengan FLP DKI Jakarta pada pertengahan 2002. Kemudian saya menceritakan kekaguman saya pada Ketua FLP Jakarta Azimah Rahayu yang begitu energik, bersahabat, disiplin, dan kerja keras dalam memimpin FLP DKI Jakarta.

Dengan membaca buku ini, pembaca dapat mengetahui seluk-beluk aktivitas anggota FLP dalam membangun negeri melalui kegiatan tulis-menulis—salah satunya mendirikan rumah baca. Dengan begitu, mereka dapat terinspirasi dan tertular virus menulis. Walau usianya masih terlalu muda (FLP berdiri pada 22 Februari 1997), namun organisasi pengaderan penulis berasas Islam ini terus berupaya menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat.