Spread the love

Sudah dibaca 100 kali

Foto: id.theasianparent.com/

Kamis yang muram, 29 Januari 2026. Anak lelaki 10 tahun itu tergantung di dahan pohon cengkih. Di pelosok desa nun jauh di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Mendahului ibu dan keempat saudaranya. Mengucap selamat tinggal pada kemiskinan ekstrem yang membelit keluarganya sekian lama.

Dalam pilu tak terkira, anak yatim itu menulis dengan linangan air mata:

 

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEE

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA

 

Artinya:

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU

MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)

JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)

TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA

 

Pendek. Puitis. Memilukan. Surat itu sebuah teriakan. Hakikatnya tak ditujukan kepada Sang Ibu. Surat itu untuk semua warga negeri ini: ada yang salah dengan bangsa kita, lalu kapan menyudahinya?

Ini bukan semata pena dan buku yang tak terbeli. Bukan pula Rp10.000 yang sulit didapat. Ini tentang derita yang dipendam oleh sebagian anak negeri ini.

Ia pergi membawa diam, dengan bendera putih di tangan. Memberi sinyal yang selama ini tak terdengar di Jakarta: infrastruktur sosial di lingkungannya sedang sekarat. Sudah lama merindukan perubahan. Mungkin, dengan kepergiannya, semua orang dewasa sadar akan kesalahannya.

Ada pertanyaan mengganjal di dada. Apa anak sekecil itu sudah punya referensi pada bunuh diri? Jangan-jangan pengaruh media sosial atau televisi? Berkata Leonardus Mali, dosen filsafat di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, “Dalam keadaan seperti ini, anak-anak kecil yang cerdas lebih mudah mengakses informasi yang tidak tersaring di media sosial. Mereka bisa saja meniru keputusan ini (bunuh diri) dari tayangan di media sosial.” (Kompas.id, 3/2/2026).

Jonathan Haidt, dalam bukunya Generasi Cemas, Bahaya Dunia Maya bagi Anak dan Remaja, menulis bahwa anak-anak yang hidup berbasis ponsel akan mengalami kecemasan, depresi, hingga bunuh diri. Ia mengambil contoh fenomena di Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data, jumlah kasus bunuh diri remaja AS berusia 10—14 tahun mengalami peningkatan pada 2012. Hal itu dipengaruhi oleh perubahan pola interaksi sosial anak-anak yang beralih dari kehidupan nyata ke dunia maya (internet dan media sosial).

Namun, anak di Ngada itu bukan dari kalangan berpunya. Buat beli pena dan buku saja tidak mampu, apalagi beli ponsel. Memang, bisa saja inspirasi itu dari bisik-bisik tetangga, televisi, atau pengalamannya di masyarakat.

Fakta lain tak kalah penting adalah: anak berusia 10—14 punya referensi untuk mengakhiri hidup tanpa pengaruh media. Faktornya lumayan banyak, di antaranya konsep diri yang salah, komunikasi buruk dengan keluarga, penilaian negatif dari lingkungan, ketidakstabilan emosi, depresi, dan tekanan ekonomi (Fasak & Sulastri, 2022). Kita langsung tahu sebab utama ia melakukan itu.

Jadi, kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan?

 

Pilu di Ngada

Ngilu se-Indonesia