Sudah dibaca 1029 kali

DALAM tausiyah tahlilan di malam pertama wafatnya Prof. Dr. Deliar Noer, di rumah duka, Ustad Bahtiar menyampaikan kekagumannya pada sosok yang telah lama ia kenal dekat itu. ”Beruntung sekali anak-anak pengajian itu. Seorang profesor mau ’menongkrongi’ mushala dan mengajar ngaji mereka,” katanya. Mendengar perkataan itu saya tersenyum simpul. Lalu saya menoleh pada mushala yang biasa ’ditongkrongi’ sang profesor.

 

Saya merasa Ustad Bahtiar sedang bicara pada saya. Sebab saya adalah salah satu anak yang memang beruntung pernah diajar oleh Prof. Dr. Deliar Noer. Seorang teman yang beberapa waktu lalu saya ceritakan bahwa guru saya adalah sang almarhum, menyampaikan ketakjubannya. ”Ya ampun, keren banget guru ngajinya profesor,” katanya.

 

Ketika itu saya masih duduk di kelas 1 SMP, sekitar tahun 1993. Mendengar ada pengajian di mushala An-Noer yang terletak dua blok dari rumah saya, saya antusias ingin mengaji di sana. Kebetulan teman-teman sepermainan turut serta.

 

Anak-anak yang belum bisa membaca al-Qur’an diwajibkan belajar buku Iqra—buku panduan belajar huruf-huruf hijaiyah yang terbit enam jilid. Beberapa anak yang lebih dewasa bertindak sebagai guru ngaji. Tak terkecuali almarhum Deliar Noer dan istrinya Ibu Zahara.

Bagi saya, juga teman-teman sebaya yang lain, satu guru ngaji yang mesti dihindari adalah sang almarhum. Sebab mengaji dengannya harus siap ”dibentak” dan disuruh ulang bacaan. Setidaknya itulah gambaran polos saya saat awal-awal mengaji dengannya. Namun makin hari kami mulai memahami itulah semangat almarhum yang hendak ditularkan pada kami. Bahwa untuk bisa membaca al-Qur’an kami harus disiplin, tidak boleh banyak bercanda, dan tidak malas mengulang bila bacaan sebelumnya belum fasih.

 

Usai shalat maghrib dan shalat sunat, almarhum duduk bersila dari posisinya di atas sajadah imam. Saya dan anak-anak lain berebutan menaruh lehar (meja kecil sebagai alas membaca Iqra) di sekelilingnya. Suasana gaduh dari anak-anak yang teriak-teriak dan berlarian kadang membuatnya terganggu, namun almarhum baru beranjak setelah selesai mencermati bacaan anak-anak yang mengaji padanya.

Almarhum tak segan-segan berkeliling sekitar mushala yang berada dalam kompleks rumahnya di Jalan Swadaya Raya nomor 7-9 Duren Sawit Jakarta Timur. Dia kadang mengawasi anak-anak yang mengambil air wudhu di toilet belakang mushala. Tak jarang pula ia mengajak bicara anak-anak.

 

 

Bekerja di rumahnya

SAAT duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, tiga tahun kemudian, saya diminta mengajar mengaji di mushala itu. Almarhum pun masih selalu menyempatkan mengajar mengaji di sela kesibukannya. Hari yang menyenangkan adalah ketika ada beberapa anak yang khatam al-Qur’an. Sebab Ibu Zahara dengan senang hati menyiapkan sejumlah menu makanan untuk disantap bersama.

 

Tiga tahun kemudian, pada 1998, saya lulus sekolah tapi tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah karena tidak lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ibu Zahara meminta saya bekerja membantu almarhum—tepatnya membantu sekretaris almarhum, Saripudin. Tugas utama saya mengkliping koran yang sudah ditandai almarhum. Kadang saya menemui almarhum untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan kliping. Dia dengan senang hati menjawabnya.

 

Almarhum memang seorang intelektual sejati. Koleksi bukunya, dalam dan luar negeri, tertata rapi di rak-rak buku berukuran besar yang menempati sejumlah ruangan di rumahnya. Saya pernah bertanya-tanya, bagaimana ia bisa melahap buku sebanyak dan tebal-tebal itu.

 

Apakah saya boleh meminjam buku-bukunya? Boleh! Saya masih ingat, saya pernah meminjam buku Shahih Bukhari jilid 2 warna hijau bersampul tebal (hardcover) yang tersimpan dalam lemari kaca berkunci. Setelah saya utarakan keinginan, dia mengambil kunci lemari, membuka kunci, dan memberikan buku itu ke saya. Dia memberi saya waktu dua minggu untuk membawa pulang buku dan saya boleh meminjam buku lagi setelah buku itu selesai dibaca.

 

Di pertengahan 1998 almarhum mendirikan Partai Umat Islam. Beberapa tokoh yang tidak saya kenal sering datang ke rumahnya untuk rapat. Kadang saya mengangkat telepon dan menjawab sejumlah pertanyaan dari masyarakat yang bertanya tentang partai ini. Mahasiswa-mahasiswa juga datang ke rumahnya.

 

Hal penting lain saat saya bekerja padanya selama tiga bulan adalah ketika Datuk Sri Anwar Ibrahim, pejabat Malaysia, dituduh melakukan sejumlah kejahatan oleh Perdana Menteri Mahatir Mohamad—belakangan semua tuduhan itu tak terbukti. Ternyata almarhum menjalin hubungan baik dengan Anwar Ibrahim. Itu tampak dari surat dan beberapa arsip yang kebetulan terbaca oleh saya—lewat surat masuk dan surat ke luar. Saya juga tahu almarhum juga intens berhubungan dengan George Mc Turnan Kahin, seorang profesor asal Amerika Serikat yang juga dikenal baik oleh masyarakat Indonesia.

 

 

Pemakaman

SEKITAR pukul 8.15 pada 19 Juni lalu jenazah almarhum kembali dishalati. Kali ini imamnya Ahmad Sumargono, bekas anggota DPR. Pukul 8.41 jenazah meninggalkan rumah duka menuju TPU Karet Bivak.

 

Alhamdulillah saya duduk di samping keranda jenazah, dalam ambulans milik Yayasan Bunga Kemboja, bersama Dian Muhammad Noer (anak tunggal almarhum), Iman (orang yang selalu dekat almarhum selama sakit), dan Fahmi, tetangga depan rumah. Sepanjang perjalanan kami membaca surat al-Fatihah, Ayat Kursi, dan zikir.

 

Iring-iringan jenazah memasuki kompleks TPU pukul 9.13. Saya kembali mendapat kehormatan ikut serta mengangkat keranda hingga ke pekuburan. Sejumlah tokoh yang saya kenal datang, seperti Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian KOMPAS Jakob Oetama.

 

Ibu Zahara duduk di atas kursi dorong tepat menghadap nisan almarhum. Wajahnya masih menyimpan kesedihan mendalam. Saya berdiri dekat nisan almarhum dan membiarkan penggalan-penggalan kisah kebersamaan dengan almarhum melintas dalam benak saya. Saya berdoa, semoga saya bisa meneladani sikap dan pemikirannya yang teguh memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Semoga bangsa ini mampu pula memetik hikmah dari kepergian almarhum Prof. Dr. Deliar Noer.

 

Billy Antoro

Duren Sawit, 21 Juni 2008