Sudah dibaca 532 kali

TEMPAT Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, 19 Juni 2008, pukul 9.30. Langit tampak cerah namun suasana duka menyelimuti hati para pengantar jenazah yang mengitari pusara Prof. Dr. Deliar Noer. Sejumlah tokoh dari posisi berdirinya di bawah tenda biru memandangi tempat peristirahatan terakhir cendekiawan muslim itu, seperti Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian KOMPAS Jakob Oetama, dan pengamat politik Arbi Sanit. Tak ada upacara khusus dan istimewa.

 

Prof. Deliar Noer merupakan tokoh besar yang dimiliki bangsa ini. Dia adalah orang pertama di negeri ini yang meraih gelar doktor dalam bidang ilmu politik pada 1962 dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Pemikirannya, yang tertuang dalam beberapa buku masterpiece-nya, seperti Partai Islam di Pentas Nasional (1987), The Modernist Muslim Movement 1900-1942 (Oxford), dan Mohammad Hatta: Biografi Politik (LP3ES, 1990), menjadi rujukan para politisi dan akademisi hingga kini. Ia termasuk orang pertama yang meletakkan dasar-dasar pengembangan ilmu politik di Indonesia. Terbukti, saat penguasa Orde Baru Presiden Soeharto menjalankan masa awal kepemimpinannya, lelaki kelahiran Medan 9 Februari 1926 ini diangkat sebagai Anggota Tim Ahli Staf Pribadi Presiden RI (1966-1968). Ide dan gagasan besarnya mengenai politik dan Islam juga mewarnai sejumlah jurnal ilmiah dan media massa nasional.

 

“Kedekatannya” dengan penguasa saat itu tak mengurangi kekritisannya. Ia tetap bersuara keras namun cerdas dan bernas mengkritik pemerintah yang dianggapnya “menyimpang”. Dua rezim penguasa (Orba Baru dan Orde Lama) dikritiknya. Sebelum menjadi staf ahli kepresidenan, ia mengkritik gagasan sinkretisme politik Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunis) yang dilontarkan Presiden Soekarno. Imbasnya dia dituduh sebagai anti-Nasakom. Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Dr. Syarif Thayeb memanggilnya dan memaksanya mundur sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara pada 1963-1965. Kemudian, pada 1974, pemerintah memecatnya dari jabatan Rektor IKIP Jakarta yang ia sandang sejak 1967.

 

Pada 1974 itu, Deliar Noer hendak menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar di IKIP Jakarta. Salah satu isinya adalah kritik fenomena maraknya “perselingkuhan” antara pengusaha dan pejabat negara/birokrasi. Karena ia menolak isi pidato yang akan dibacakannya diubah, ia dilarang membacakan pidato itu. Pelarangan itu berlanjut pada penghentiannya sebagai Rektor IKIP Jakarta. Ia juga dilarang mengajar di seluruh perguruan tinggi Indonesia. Belakangan naskah pidato itu diminta teman karibnya, Anwar Ibrahim (Ketua Angkatan Belia Uslam Malaysia), untuk dibukukan dan diberi judul Partisipasi Dalam Pembangunan (1978).

 

Pada 1998 ia mendirikan Partai Umat Islam—ikut Pemilu 1999 dengan nomor 6. Ia ingin menyatukan tokoh-tokoh muslim dan menyamakan visi untuk membangun Indonesia yang lebih baik setelah sebelumnya dihantam badai krisis moneter 1997 dan turunnya penguasa rezim Orba Soeharto.

 

Dapat dikatakan Deliar Noer adalah aktivis kampus dalam arti sebenarnya. Saat menjadi mahasiswa, ia pernah diamanahi sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta (1951-1953)—tahun yang sama saat ia menjadi guru di SMA Muhammadiyah Jakarta. Kemudian posisi Ketua Pengurus Besar HMI (1953-1955) diembannya. Ketika menjadi dosen, mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi dalam dan luar negeri pernah mengenyam ajarannya, seperti Universitas Sumatera Utara, Universitas Indonesia, Seskoad, Seskoal, Seskoau dan Lemhannas DKI Jakarta, IKIP Jakarta, Universitas Nasional, dan Universitas Griffith Australia. Ia pun berani melanglang buana mencari ilmu dan mendapatkan gelar Magister dan Doktor di USA Cornell University, Amerika Serikat, dengan beasiswa dari Yayasan Rockefeller atas sponsor proklamator Bung Hatta.

 

Deliar Noer adalah sosok yang tegas dan berani serta konsisten memperjuangkan penegakan syariat Islam di tanah air. Sahar L. Hasan, Presidium KAHMI (Korps Alumni HMI), saat menyampaikan pidato perpisahan di TPU Karet Bivak pada Kamis kelabu lalu, menyebut Deliar Noer sebagai intelektual-ulama pemberani. Sulit sekali, kata Sahar, mencari orang sekaliber Deliar Noer. Ada pula yang mengatakan Deliar Noer adalah perpaduan Mohammad Hatta (intelektual) dan Muhammad Natsir (ulama).

 

Kepergian orang besar seperti Prof. Dr. Deliar Noer berarti pula kehilangan tokoh utama bangsa ini. Mengingat negeri ini tidak lagi memiliki banyak sosok yang konsisten, berprinsip teguh, dan “rela kesepian” dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bangsa. Semoga kepergiannya memberi hikmah dan arti sendiri bagi orang-orang yang pernah beriteraksi dengannya, baik para akademisi yang mengecap pemikirannya lewat kuliah dan buku, maupun pada pejuang Islam yang teguh menegakkan syariat.

 

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 21 Juni 2008.