Sudah dibaca 704 kali

Memet melipat koran. Wajahnya merona gembira. Melihatnya, Cepi heran. Ia buru-buru merebut koran itu dan bola matanya langsung sibuk mondar-mandir mengeja kata. “Kamu senang sekali, Met? Baca apa? Ada berita kucing Bali beranak?”

Dasar pawang kucing! Di otaknya cuma ada kucing beranak saja. Politikus kucing! “Hakim ST, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung, masuk bui. Tertangkap basah terima suap.”

“Lalu kenapa kamu gembira begitu?”

“Tentu kita harus gembira, Cep! ST sedang tangani kasus korupsi. Ini mengindikasikan, kita pun punya harapan bisa suap hakim yang menyidang kasus kita nanti.”

“Maksudmu, bahkan hakim tindak pidana korupsi pun masih bisa korupsi juga?” Pandangan Cepi masih tertuju pada koran. Sibuk baca berita tentang ST.

Memet manggut-manggut.

“Terlalu! Itu hakim moralnya di mana? Masak hakim tipikor korupsi? Nggak ada otaknya!” Cepi memaki-maki gambar ST di koran.

Memet sewot. “Kamu bukannya senang, Cep! Sebagian hakim di negeri ini masih bisa dibeli, artinya peluang kita lolos dan korupsi lagi sangat besar. Ini menguntungkan kita, Cep!” Memet hampir melonjak kegirangan lantaran tak sanggup menguasai diri.

Tapi Cepi malah geleng-geleng kepala. “Sebelumnya, hakim KM yang kerja di Pengadilan Tipikor Semarang, juga makan suap. Memalukan! Ia tak mampu menggunakan nurani seorang perempuan untuk menghentikan nafsu setannya.”

Memet benar-benar tak mengerti isi pikiran Cepi. “Kamu sudah gila, Cep? Mestinya ini harus kita rayakan!”

Tatap Cepi masih belum beranjak dari koran. “Sialannya, si ST ini diduga juga terima layanan seks. Dia mintanya tiap Kamis dan Jumat. Dianggapnya sunah rasul. Bedebah!”

Kali ini Memet diam. Ia melihat wajah Cepi garang seperti panggangan sate.

“Berzina malah mengklaim sunah rasul! Ini orang apa pernah belajar agama?!”

Cepi ingat ungkapan lama: meskipun sebagian orang Islam tidak shalat, tapi kalau Nabi Muhammad dihujat, mereka akan bertindak seolah pembela Nabi yang berani.

“Kalau ST satu sel dengan kita,” ujar Cepi dengan suara membakar, “kupukuli dia sampai babak belur!” Ia lalu melempar koran ke lantai dan menginjak-injaknya.

Setelah Cepi kelihatan tenang, Memet baru angkat bicara. “Situasi ini harus benar-benar kita manfaatkan. Sepertinya hakim terima suap sedang tren.”

Cepi kelihatan lesu. Ia tak bersemangat. Saat itulah Asan datang.

“San, kemari!” panggil Memet.

Asan heran sebentar, lalu ia mendekatkan telinganya ke dekat jeruji besi.

“Tolong kamu usahakan pengadilan yang menyidangkan kasusku ditangani oleh pengadilan yang bukan dari Jakarta.”

“Lho, memangnya kenapa?”

“Aku ragu hakim Tipikor Jakarta bisa disuap. Coba kamu usahakan, ya?”

“Agar kamu bisa menyuap hakim?” sergah Asan. Ia tahu isi otak Memet tak jauh dari korupsi, suap, dan pencucian uang.

Memet mengangguk. Matanya mengawasi penjaga yang sebentar melintas.

Asan merasa ada yang ganjil. Ia memerhatikan Cepi yang lesu seakan kehabisan darah. “Itu Cepi kenapa? Kayak hidup segan mati ogah.”

Memet menggeleng.

“Met,” ucapan Cepi terdengar sendu. Wajahnya mendung. “Kalau kamu berhasil menyuap hakim dan tidak ditahan…”

Kalimat Cepi menggantung. Ia merasa tak bisa meneruskan lagi perkataannya. Hatinya tenggelam dalam sungai kesedihan.

Memet mendekatinya, pura-pura peduli. “Lalu…?”

“Lalu bagaimana dengan aku? Kalau kamu pergi, siapa yang menemaniku? Aku takut, Met, kalau kamu tinggal. Kamu sudah kuanggap saudara. Aku tak mau kesepian di sini.” Cepi kemudian menjatuhkan tubuh ke ranjang dan menutup kepalanya dengan bantal. Terdengar tangisnya meratap-ratap.

Memet dan Asan saling berpandangan. Galau.

 

Jakarta, 22 April 2013.